Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Bucinnya orang pendiam

Gambar
Yak... seperti yang kalian lihat dan baca tulisan dalam gambar di atas ya (mana sih?) Dari sana saya simpulkan bahwa saya itu sebenarnya orangnya bucin banget. Cuma ya lebih suka buat petak umpet aja. Maklum dong saya kan orangnya pemalu. (Ohokk... malu-maluin iya bener tuh). Lalu bagaimana mungkin gitu ada orang, (Ya mungkinlah. Di dunia ini kan gak ada yang gak mungkin!)  temen saya nih yang bilang bahwa saya itu em... gimana ya nyeritainnya. (Serah lu pawang ujan). Pokoknya dia bilang bahwa enggak ada satu manusia pun di bumi ini selama ini yang pernah ngebayangin seorang saya jatuh cinta sama cowok gitu. Rasanya masih mustahil. Kecuali kalau saya udah nikah kali ya dia baru percaya. Kaliiii.... (Ah, masa) Saya jadi ngerasa seakan-akan orang yang paling susah gitu untuk bisa menjalin hubungan dengan spesies yang berbeda. Meski nyatanya emang iya sih. (Yang jelas dong huuuu) Ya jadi emang temen saya itu hiperbolanya super duper banget ya bisa sampai ngatain saya gitu. Untun...

Bersosial media dengan ipusnas

Gambar
Hai sahabat... Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menggunakan aplikasi ipusnas. (Bohong. Pasti mau promo akun dia.) Bagi yang belum tahu, aplikasi ini merupakan aplikasi peminjam buku. Semacam dengan sebuah perpustakaan nasional yang berbasis digital. (Heleeeh...modielmu) Saya menyebut aplikasi ini sebagai aplikasi peminjam buku karena memang setelah selesai masa peminjaman habis buku tersebut akan dikembalikan. Kalaupun kalian tidak ingin mengembalikannya buku itu akan kembali dengan sendirinya. Wah... keren sekali bukan?(Macem biaseee je :p) Seiring perkembangan zaman, dunia perbukuan tulis menulis juga mengalami perubahannya sendiri. Sebuah perpustakaan digital, bukankah itu sungguh fantastik? Apakah kalian tidak tertarik menggunakannya juga? Sebelum saya beritahu caranya meminjam di aplikasi ipusnas ini tentu saja sahabat sekalian harus mendownloadnya terlebih dahulu. Aplikasi ini tidak terlalu besar sizenya. Kalian harus menyisakan ruang hanya sekit...

Hobi vs introvert

Gambar
Masih mau melanjutkan tulisan yang kemarin yaitu mengenai hobi. Tahu gak sih bat? (sahabat apa soto babat nih?!) Saya itu tidak punya hobi yang wah gitu ya dimata kalian (emang). Nulis juga biasa-biasa aja malah keseringan nulis yang ditulis itu kebanyakan curhat, ngeluh dan sejenisnya. Buat buku untuk diterbitin juga enggak. Sungguh tidak bermutu sama sekali. Boro-boro mau jadi buku, mikir aja ogah-ogahan. Kalau menggambar ya suka aja buat menghabiskan waktu. Tidak ada yang istimewa. Gambaran saya juga tidak bagus-bagus amat. (Bilang aja jelek) Namanya juga hobi. Hobi itu kan suatu hal yang disukai yang dikerjakan pada waktu senggang yekan yekaaaan? (Iyain aja biar cepet). Jadi ya boleh aja saya sebut sebagai hobi. Ngomongin tentang nulis atau ngegambar nih saya jadi ingat postingan seseorang yang ahli tentang introvert di instagram. Dia bilang kalau buat para introvert, seni itu biasanya menyenangkan. Terutama gambar dan tulisan.Nah, dari situ saya mikir (tumben mau mikir) kala...

Saya, dengan seluruh kegabutan saya

Gambar
Di situasi pandemi ini kita dianjurkan untuk berdiam diri di rumah saja. Tentu sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hanya berdiam mematung tidak berguna. Kita tetap beraktifitas sebagaimana makhluk hidup mestinya menjalani hidup. Hanya saja aktifitas kita sebatas di rumah saja. (Iya iyaaa ngerti. Mau cerita apa sih ribet amat idup lo.) Banyak dari kalian yang mengeluh karena tidak bisa maen keluar bersama teman, refreshing, berangkat sekolah rame-rame dan kegiatan menyenangkan lainnya.  Tapi saya biasa aja tuh. (siapa yang nanya sih).  Sebagai bocah rumahan pada umumnya tentu saya betah-betah aja. Malah seneng. (Aslinya sih rewel pasal tugas yang gak kelar-kelar.) Ya gimana, biasanya tiba-tiba udah liburan aja ini rasanya lama banget liburan semesternya. Huhu. Sebagai bocah rumahan yang memiliki hobi di rumah saja (tolong gak usah belibet lagi). Yaudah saya gak usah cerita aja deh. Sekian. Ehem, maksud saya hobi saya itu bisa dilakukan meskipun kita di rumah saja. Kalau kali...

Unknown

Gambar
Kepada semua orang yang memiliki teman rahasia Kepada semua orang yang menaruh penasaran padanya Kepada semua orang yang ingin tahu siapa identitas mereka sebenarnya Saya ucapkan selamat karena anda mungkin pernah merasakannya Memiliki teman rahasia yang entah siapa orangnya Atau jangan-jangan anda salah satu pelakunya Memiliki mereka memang mengundang rasa ingin tahu Memiliki mereka memang membuat kita  menyelidiki dan merasa perlu tahu Namun menguak kebenarannya bukan keinginan orang itu Terkadang kita tidak perlu membuang waktu untuk mengetahuinya Karena waktu akan menjawab dengan sendirinya Dengan cara yang tidak pernah kita duga Kalaupun waktu enggan menjawab, biarlah dia tetap menjadi misteri Biarlah dia menjadi sesuatu yang membuat guratan indah di bibirmu, saat dia kembali meninggalkan jejaknya Sesuatu menjadi begitu indah bisa jadi karena kita tidak perlu mengetahui kebenarannya

Khayal

Ada yang singgah lalu pergi tanpa meninggalkan goresan luka dan masih bisa berteman baik Ada pula yang singgah lalu enyah dan meninggalkan rasa bersalah, seperti ada tapi tiada Mengapa begitu mudah kau datang lalu pergi sesuka hati Sedangkan aku ingin pergi, tapi sulit sekali Entah mengapa seperti ada rasa bersalah terus menetap dalam diri Bagaimana ku bisa lari pergi jauh? Ah, memang benar... Kau akal dan aku perasaan Ayolah... Tolong ajarkan aku menggunakan akal tanpa perasaan! Aku tahu pergi bukan cara yang terbaik Semua sudah terlanjur Maafkan diri yang kerap berkata hingga tinggalkan luka Kecanggungan ini adalah salahku Entah, apakah aku dapat mencairkannya Apakah kita dapat berteman lebih baik lagi setidaknya Haruskah ku mencairkannya ataukah membiarkannya hingga waktu yang cairkan segalanya?

Tahukah kamu

Kau harus tahu... Aku tidak pernah bisa benar-benar marah pada seseorang Mungkin aku memang berteriak dan menggunakan nada tinggi ketika itu Namun aku tak benar-benar marah Sungguh Sebab, saat aku marah pada seseorang Aku seperti menjadi seseorang itu sendiri Aku sendiri yang merasa dimarahi Aku sendiri yang merasa tersakiti Aku sendiri yang menangis dalam sepi Mungkin hanya diam Hanya itu yang bisa ku lakukan Saat aku mulai bicara dengannya Saat itu pula amarahku hilang Amarahku menguap begitu saja Aku begitu lemah Aku begitu rapuh Akan tetapi, Masih tegakah kau tuk menyakiti Masih tegakah kau tuk lukai

Bumiku yang malang

Gambar
Kemarin kujejaki tanah gembur itu Kurasakan betapa ia menangis pilu Ku lihat ia merintih bagai diiris sembilu Mengaduh tertahan tertimpa buldoser Berteriak tanpa kata dan suara tereja Akankah ku lihat lagi bumiku yang asri usai pembangunan nanti Akankah banjir menggenangi sebab berhektar-hektar tanah terlapisi Akankah dapat ku jumpai keheningan tentramkan hati esok hari Aku hanya diam menerawang Menatap kosong lahan yang telah diratakan Diktator itu dengan penuh paksa meminta Tak bisakah sesuatu kau cipta tanpa hancurkan bumi kita Bukankah kita hidup di bumi yang sama Lalu mengapa kau tega memporak porandakan semuanya Tak sadarkah kau

Malam yang mencekam

Mama, aku takut mama Disini sendiri tanpa seorang pun yang temani Mama, lekaslah kembali dan jangan terlalu lama mama Mama, meskipun aku bisa mengatakan bahwa yang ku takuti hanyalah Dia Sang Pencipta alam semesta, namun dalam jiwaku masih juga merasa khawatir dan juga cemas Tadi hujan begitu lebat disertai angin dan petir yang menggelegar Kini angin masih saja bertiup menderu-deru mama Di sekitarku hanyalah gelap dan suara-suara itu menggangguku Mama, tak bisakah kau percepat langkahmu untuk segera kembali Mama aku mohon... Mama, ketika nanti aku telah tiba di ujung ketakutanku aku harus berbuat apa mama Apakah dengan berteriak akan menghilangkan rasa takutku Apakah dengan menutup wajah dengan kedua tanganku akan menyelesaikannya Apakah dengan menutup mata dan telingaku dapat mengenyahkan segalanya Oh, mama....