Ant yang malang
Di sebuah bangunan yang begitu luas hiduplah seekor semut. Semut itu bernama Ant. Dia hidup sendirian tak seperti semut-semut pada umumnya yang selalu berbaris rapi dengan banyak teman. Entah mengapa dia enggan bergabung dengan semut-semut yang lain. Dia pikir mereka bukan saudaranya. Beberapa waktu lalu Ant dan orang tuanya tertimpa musibah yang begitu besar. Dan musibah itu hanya menyisakan Ant.
Ant berjalan seorang diri di lantai yang begitu luas. Dia tidak tahu betapa banyak bahaya yang bisa menimpanya jika hanya seorang diri. Akan lebih aman jika menggerombol dengan semut-semut lainnya. Namun Ant masih belum menyadarinya. Kehilangan kedua orang tuanya bukanlah hal yang menyenangkan. Ant seperti kehilangan arah dan tujuan hidupnya.
Ketika Ant sedang tak berdaya terjadilah sesuatu yang aneh di perjalanannya. Ant mendapati sebuah gua di depannya. Dia penasaran hingga berusaha untuk masuk. Gua itu sangat kecil yang jika Ant masuk ke dalamnya maka gua tersebut sudah tak muat lagi bila ada semut lain yang ingin masuk.
Lelah dengan gua yang tak terdapat makanan di dalamnya Ant pun pergi untuk melanjutkan perjalanan. Ketika baru beberapa meter dia mendapati sebuah gua lagi. Ant mendekati gua tersebut untuk mengecek apakah ada makanan untuknya. Ternyata tiada sesuatu apapun dalam gua tersebut.
Ant berjalan lagi, bertemu gua lagi, berjalan lagi hingga dia seperti menyadari satu hal. Ant merasa bahwa gua-gua tadi merupakan gua yang sama. Seketika itu juga Ant mengalihkan pandangannya ke belakang dan dilihatnya makhluk raksasa berada tepat di belakangnya dan siap menyerangnya. Ant segera lari tunggang langgang untuk menjauhi raksasa tersebut. Gua itu sudah ada di depannya lagi tapi dia tetap berlari hingga tiba di dekat tembok besar.
Dia hanya memandangi tembok yang terdapat semut-semut lain jalan berbaris ramai sekali. Ant ingat dulu dia juga seperti itu bersama kedua orang tuanya. Ant menunduk kemudian ada seekor semut yang tanpa sengaja telah menabraknya dan membuat Ant tersadar dari lamunannya. Semut itu kemudian minta maaf dan berkata "ayo segera merapat jangan sampai ketinggalan." Semut itu tersenyum diikuti dengan Ant. Ant seperti tergerak sendiri mengikuti semut tersebut. Semut yang menabrak Ant tadi baru menyadari bahwa Ant benar-benar mengikutinya. Kemudian mereka bersalaman dan akhirnya mereka dapat berteman dengan baik.
Semenjak itu Ant merasa jauh lebih baik. Dia juga merasa lebih aman bersama rombongan semut. Dia juga sudah merelakan apa yang seharusnya direlakan sejak dulu. Teman baru, keluarga baru, petualangan baru. Ant merasa bahagia. Ant pikir dia sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi sejak ditinggal kedua orang tuanya. Tapi ternyata dia yang tidak menyadari bahwa semut-semut yang lain begitu mudah perhatian dengan sesamanya. Ant tahu, tidak ada gunanya lagi bersedih memikirkan mereka yang sudah pergi. Ant harus bisa bangkit, ikhlas dan terus berdoa.
Semua semut adalah saudara. Jadi ketika suatu saat nanti Ant tersesat atau kehilangan arah, Ant hanya perlu mencari gerombolan semut untuk kemudian bergabung. Semudah itu dia akan mendapatkan keluarga baru. Di sisi lain ada seorang anak kecil yang sedang disuapi Ibunya tengah memegang batu berlubang. Anak kecil itu kemudian melemparkannya ke arah segerombolan semut.
Ant berjalan seorang diri di lantai yang begitu luas. Dia tidak tahu betapa banyak bahaya yang bisa menimpanya jika hanya seorang diri. Akan lebih aman jika menggerombol dengan semut-semut lainnya. Namun Ant masih belum menyadarinya. Kehilangan kedua orang tuanya bukanlah hal yang menyenangkan. Ant seperti kehilangan arah dan tujuan hidupnya.
Ketika Ant sedang tak berdaya terjadilah sesuatu yang aneh di perjalanannya. Ant mendapati sebuah gua di depannya. Dia penasaran hingga berusaha untuk masuk. Gua itu sangat kecil yang jika Ant masuk ke dalamnya maka gua tersebut sudah tak muat lagi bila ada semut lain yang ingin masuk.
Lelah dengan gua yang tak terdapat makanan di dalamnya Ant pun pergi untuk melanjutkan perjalanan. Ketika baru beberapa meter dia mendapati sebuah gua lagi. Ant mendekati gua tersebut untuk mengecek apakah ada makanan untuknya. Ternyata tiada sesuatu apapun dalam gua tersebut.
Ant berjalan lagi, bertemu gua lagi, berjalan lagi hingga dia seperti menyadari satu hal. Ant merasa bahwa gua-gua tadi merupakan gua yang sama. Seketika itu juga Ant mengalihkan pandangannya ke belakang dan dilihatnya makhluk raksasa berada tepat di belakangnya dan siap menyerangnya. Ant segera lari tunggang langgang untuk menjauhi raksasa tersebut. Gua itu sudah ada di depannya lagi tapi dia tetap berlari hingga tiba di dekat tembok besar.
Dia hanya memandangi tembok yang terdapat semut-semut lain jalan berbaris ramai sekali. Ant ingat dulu dia juga seperti itu bersama kedua orang tuanya. Ant menunduk kemudian ada seekor semut yang tanpa sengaja telah menabraknya dan membuat Ant tersadar dari lamunannya. Semut itu kemudian minta maaf dan berkata "ayo segera merapat jangan sampai ketinggalan." Semut itu tersenyum diikuti dengan Ant. Ant seperti tergerak sendiri mengikuti semut tersebut. Semut yang menabrak Ant tadi baru menyadari bahwa Ant benar-benar mengikutinya. Kemudian mereka bersalaman dan akhirnya mereka dapat berteman dengan baik.
Semenjak itu Ant merasa jauh lebih baik. Dia juga merasa lebih aman bersama rombongan semut. Dia juga sudah merelakan apa yang seharusnya direlakan sejak dulu. Teman baru, keluarga baru, petualangan baru. Ant merasa bahagia. Ant pikir dia sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi sejak ditinggal kedua orang tuanya. Tapi ternyata dia yang tidak menyadari bahwa semut-semut yang lain begitu mudah perhatian dengan sesamanya. Ant tahu, tidak ada gunanya lagi bersedih memikirkan mereka yang sudah pergi. Ant harus bisa bangkit, ikhlas dan terus berdoa.
Semua semut adalah saudara. Jadi ketika suatu saat nanti Ant tersesat atau kehilangan arah, Ant hanya perlu mencari gerombolan semut untuk kemudian bergabung. Semudah itu dia akan mendapatkan keluarga baru. Di sisi lain ada seorang anak kecil yang sedang disuapi Ibunya tengah memegang batu berlubang. Anak kecil itu kemudian melemparkannya ke arah segerombolan semut.
Komentar
Posting Komentar