Kesabaran seorang ibu

Saya sadar bahwa saya tidak terlalu pandai bercerita. Namun izinkanlah kali ini saya ingin menceritakan kembali sebuah kisah yang pernah dituturkan oleh Bu Nyai Saudah disela-sela penjelasan beliau. Saat itu  Senin, 26 November 2018 pelajaran kitab Akhlaqul Banat ba’da Maghrib. Ketika belum ada pembagian kelas seperti sekarang ini.

Semoga mbak-mbak yang ikut mengaji masih dapat mengingatnya kembali hehe. Kalaupun masih tetap tidak ingat juga, biar saya tebak mungkin pas lagi melamun atau malah jangan-jangan sedang ketiduran. Hehe. Tidak apa-apa saya sendiri juga sering kok ketiduran pas ngaji Ibuk. Lebih parahnya lagi tempat saya di barisan paling depan. Ups, keceplosan.

Suatu hari pada zaman dahulu, ada seorang pemuda yang  penasaran ketika memandang kilauan di sebuah gunung. Saking silaunya pancaran itu membuat pemuda tersebut menuruti keingintahuannya. Dia pun pergi mendekati arah sinar itu yang ternyata berasal dari sebuah rumah. Di dalam rumah tersebut ternyata ada seorang janda yang masih muda. Dahulu rumah itu dihuni oleh satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, tiga orang anak. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan yang masih kecil.

Suatu waktu sang ayah praktek menyembelih kambing untuk berkorban. Yang tak disangka-sangka kemudian ditirukan oleh anaknya. Si kakak laki-laki berkata kepada adik laki-lakinya, “Dik, kakak mau praktik menyembelih seperti ayah dan kamu yang jadi kambingnya ya...” adik laki-lakinya pun menurut.

Setelah selesai menyembelih adiknya, sang kakak pun terkejut karena melihat adiknya ternyata benar-benar mati. Saking takutnya sang kakak, dia pun berlari masuk ke dalam hutan yang lebat dan sang kakak berakhir dimakan oleh macan hingga tak berbekas sama sekali jasadnya.

Kemudian sang ayah mengetahui anak laki-laki kecilnya mati dan menyadari bahwa kakak yang menyembelihnya tidak ada di rumah. Sontak sang ayah pergi ke hutan untuk mencari anaknya yang kabur. Mau dicari sampai kapanpun sang anak sudah mati diterkam macan hingga tak meninggalkan jejak mana mungkin dapat ditemukan. Sang ayah tetap mencari hingga pada akhirnya sang ayah pun mati karena kelaparan.

Tinggallah sang ibu dengan bayi perempuan kecilnya yang baru bisa merangkak. Sang ibu pun bingung harus mencari ayah kemana. Setelah keluar sebentar untuk mencari sang ayah yang juga tidak ditemukan, sang ibu pun pulang ke rumah dan mendapati putri kecilnya sudah mati terjebur dalam sumur.
Akhir cerita, berkat kesabaran sang ibu dalam menghadapi cobaan berupa kehilangan seluruh anggota keluarganya itu menjadikan rumahnya bersinar menyilaukan seluruh mata yang memandang.

Sekian terimakasih. Banyak kesalahan saya dalam mengingatnya mohon dikoreksi. Sebenarnya Ibuk seringkali menceritakan kisah-kisah inspiratif yang penuh dengan hikmah ditengah menerangkan penjelasan kitab yang sedang beliau bacakan. Ingin sekali menulis semuanya namun apalah daya saya adalah makhluk pelupa dan juga kerap ketinggalan cerita sebab tanpa sadar menutup mata. Huhu. Sering juga menahan kantuk namun konsentrasi tetap saja tidak mau tunduk. (Dah lah, malah curhat.)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips dapat teman baru

Belum siap kehilangan (2)

Pengen boker