Kobongan
Beberapa hari penuh drama. Yang pertama saat kami membersihkan perkakas kamar karena hendak kedatangan santri baru dari Trenggalek. Dengan sedikit terpaksa kami pun bangkit dari posisi ternikmat di dunia, rebahan. Merapikan kamar kemudian mencarikan lemari kosong, eh bukan. Mengosongkan lemari lebih tepatnya. Ngapain lemari di cari-cari orang udah ada di depan mata. Huhaha.
Kami juga membereskan kabel-kabel yang berserakan. Memilah charger hape yang sudah rusak dan tidak digunakan lagi untuk dibuang. Saat itu berjumpalah kami dengan stopkontak (bahasa jawa : oler) yang sudah lama tak digunakan dan dinyatakan telah rusak. Ketika mengecek apakah stopkontak tersebut benar-benar sudah tidak dapat dipakai terjadilah hal yang tak diinginkan namun diinginkan terjadi. (Ini ngomong apa sih) Dengan menyolokkan stopkontak rusak itu ke stopkontak lainnya yang teraliri listrik kemudian mendadak aliran tersebut terputus begitu saja saat stopkontak rusak itu dicolokkan. Mbak Wi (nama samaran) yang sedang nge-charger laptop dan sedang mengerjakan tugas proposal mendadak kaget karena laptopnya mati. Set! Matanya langsung menukik tajam. Akhirnya terjadilah ungkapan sumpah serapah untuk stopkontak bobrok itu.
Kejadian kedua saat sedang asri-asrinya suasana kami stopkontak mendadak mencari perhatian dengan menunjukkan kemarahannya. Dia menyemburkan api. Semua ribut. Saya mengumandangkan adzan. Ada yang histeris dan rileks (refleks kali ya maksudnya) berteriak "cari gombal anget!!". Beruntung apinya lekas padam dengan sendirinya setelah aliran listriknya diputus (baca : cop-copane dijabut).
Kebakaran tersebut tepat dibolongan chargernya laptop Mbak An (samaran) terbakar, meleleh dan copot besinya. Oh, nasib.
Selanjutnya tadi malam itu lampu kamar mandi bawah meletup hingga menyisakan bekas lingkaran jupiternya. Namun keributan kecil itu mampu membangunkan beberapa dari kami yang sudah terlelap beberapa saat. Mendengar suara kang-kang siapa yang tidak kaget dan merasa ada yang salah.
Pas sebelum tidur malam tadi diberi suguhan cerita serem dari mbak-mbak yang stay di pondok selama kami pulang. Yang ketika itu hanya enam atau tujuh butir yang tersisa. Meskipun sudah berkali-kali menyangkal cerita itu tetap saja bikin bergidik merinding. Di tambah lagi pas saya terbangun ditengah kejadian lampu meletup itu semuanya gelap gulita. Dan cerita dari mbak-mbak masuk ke dalam mimpi saya. Wah lengkap sudah penderitaan saya.
Akhirnya kami yang sudah terlanjur terbangun tentu saja susah untuk kembali memejamkan mata, bingung ini ada apa lalu menyatakan segala kemungkinan yang ada dari sedikit cerita yang didapat kemudian makan jajan bersama karena merasa lapar. Mengajak mbak pengurus makan jajan sekalian, menceritakan kejadian terbakarnya stopkontak, tertawa bersama, kembali tidur di kamar masing-masing. Padahal bilangnya mau bergadang.

Komentar
Posting Komentar