Kucing rumahan
Hidup di rumah saja membuat saya hanya bergaul dengan kucing rumahan. Makan, tidur, wc, makan, tidur, wc begitu setiap hari. Hingga sejenak marga kemahasiswaan yang telah ku jalani tiga tahun terakhir ini terlupakan begitu saja. Tugas UAS yang seharusnya sudah tuntas kini terbengkalai.
Disuatu kesempatan Ibu saya menanyakan apakah tugas kuliah saya sudah tuntas semua. Mungkin karena kemarin saat beliau bertanya kapan pembayaran ukt saya jawab asal-asalan bahwa UAS saja belum selesai. Entah kenapa beliau kerap sekali menanyakan hal tersebut. (Oh my! Jangan-jangan beliau ingin saya segera lulus? T.T)
Dengan semangat tersebut hari ini saya bertekad untuk menjadi manusia lagi setelah berhari-hari menjadi kucing pemalas. Memaksa tubuh ini bangkit dari pulau kapuk memang bukanlah perkara yang mudah. Butuh sedikit keterpaksaan atau kalau tidak niscaya akan menjadi kucing malas lagi. (Ini bukan salah kucing ya. Emang sayanya aja yang salah pergaulan. Loh, tetep nyalahin kucing ujungnya?)
Saya pergi mandi dengan tekad kuat bahwa saya bukan kucing yang takut air. Selesai main air saya pun keluar kamar mandi dengan wajah berseri-seri bak bidadari. Mengganti pakaian lusuh, menyisir rambut yang sudah tak karuan bentuknya, merawat kembali wajah yang telah lama dibiarkan kusam, tak lupa olesan cream di kulit yang terlihat kering bagai sisik ular sawah.
Badan fresh, pikiran tenang saatnya mengintip tugas-tugas tak bersalah itu. Duduk depan laptop kemudian menyalakannya. Semoga dia (laptop) baik-baik saja. Akhirnya laptop itu sempurna menyala juga dan... "Nduk, klopone" Ibuku memanggil. Hmm pantas saja tadi mau nyalain leptop, enggak, nyalain, enggak, nyalain, enggak. Ternyata emang ada yang terlupa. By the way, tanganku wangi nih. Nanti parutan kelapanya ikut wangi juga enggak ya? (Au ah gelap.)
Bye, laptop. Kamu harus saya matiin dulu. Tugas, kamu jangan ngambek ya. Mumpung di rumah saja saya mau jadi anak baik-baik dulu. Menunda-nunda pekerjaan alias tugas kuliahmu bukan tipe anak baik loh. Ah, susah ya jadi anak baik.
Disuatu kesempatan Ibu saya menanyakan apakah tugas kuliah saya sudah tuntas semua. Mungkin karena kemarin saat beliau bertanya kapan pembayaran ukt saya jawab asal-asalan bahwa UAS saja belum selesai. Entah kenapa beliau kerap sekali menanyakan hal tersebut. (Oh my! Jangan-jangan beliau ingin saya segera lulus? T.T)
Dengan semangat tersebut hari ini saya bertekad untuk menjadi manusia lagi setelah berhari-hari menjadi kucing pemalas. Memaksa tubuh ini bangkit dari pulau kapuk memang bukanlah perkara yang mudah. Butuh sedikit keterpaksaan atau kalau tidak niscaya akan menjadi kucing malas lagi. (Ini bukan salah kucing ya. Emang sayanya aja yang salah pergaulan. Loh, tetep nyalahin kucing ujungnya?)
Saya pergi mandi dengan tekad kuat bahwa saya bukan kucing yang takut air. Selesai main air saya pun keluar kamar mandi dengan wajah berseri-seri bak bidadari. Mengganti pakaian lusuh, menyisir rambut yang sudah tak karuan bentuknya, merawat kembali wajah yang telah lama dibiarkan kusam, tak lupa olesan cream di kulit yang terlihat kering bagai sisik ular sawah.
Badan fresh, pikiran tenang saatnya mengintip tugas-tugas tak bersalah itu. Duduk depan laptop kemudian menyalakannya. Semoga dia (laptop) baik-baik saja. Akhirnya laptop itu sempurna menyala juga dan... "Nduk, klopone" Ibuku memanggil. Hmm pantas saja tadi mau nyalain leptop, enggak, nyalain, enggak, nyalain, enggak. Ternyata emang ada yang terlupa. By the way, tanganku wangi nih. Nanti parutan kelapanya ikut wangi juga enggak ya? (Au ah gelap.)
Bye, laptop. Kamu harus saya matiin dulu. Tugas, kamu jangan ngambek ya. Mumpung di rumah saja saya mau jadi anak baik-baik dulu. Menunda-nunda pekerjaan alias tugas kuliahmu bukan tipe anak baik loh. Ah, susah ya jadi anak baik.

Hai kucing
BalasHapus