Satu dari ribuan cerita
Tak pernah sedikitpun terbersit dalam diri ini sebuah pedesaan di Gandusari yang bertempat di Blitar ini bernama Desa Kotes. Sebuah nama desa yang asing, namun itulah desa yang akan kami tinggali nanti ketika melaksanakan tugas kuliah yakni KKN. Nama saya Mila Roisatu Diniyah, tapi di posko saya dipanggil Ro’i. Awalnya iseng aja ketika ditanya namanya siapa saya jawabnya Roisa. Udah lazim aja dipanggil Mila atau Dini eh, malah keterusan dipanggil Ro’i atau Roy sama teman-teman di posko. Yaudah, lagi pula di posko juga ada yang panggilannya Milla, daripada bingung gak apa-apalah dipanggil Ro’i. Tapi maaf, selain di posko tidak ada yang mengenal saya sebagai Ro’i melainkan sebagai Mila atau Dini meskipun sedikit. Jadi kalau ada temen kamu yang mungkin kenal sama saya tanyanya jangan Ro’i tapi Mila saja ya, Mila Roisatu Diniyah.
Setelah melalui rentetan acara pembekalan dan pelepasan yang diadakan oleh kampus, kami pun berangkat menuju posko pada hari Jum’at, 10 Januari 2020 dengan mengendarai sepeda motor. Saya hanya bisa nebeng, helm saja saya dapat dari minjem. Minjem selama sebulan itu entah apa namanya. Sampai disana kami lihat-lihat rumah lalu duduk di ruang tamu, berbincang ringan sambil melepas penat. Saya pergi ke belakang. Biarlah teman-teman duduk bersantai di ruang tamu, mungkin masih capek. Di dapur Ibu posko sedang riweuh hendak menyiapkan minuman panas untuk kami, saya pun ikut membantu menyiapkannya dan membawa ke ruang tamu. Mereka bilang gausah repot-repot hahaha saya sih gak repot tapi ibuknya yang repot batin saya.
Sekitar dua hari kami di posko akhirnya kami punya agenda kegiatan yaitu kumpulan dengan posko satunya yang masih satu desa untuk membicarakan keperluan pembukaan. Kami agak jarang berkumpul karena jarak antar posko juga lumayan jauh. Dalam kumpulan tersebut saya menjadi bagian dari sie acara dan mendapat tugas qiro’ah. Dari 40 butir yang ada disini kenapa pula saya yang ditumbalkan menjadi tukang qiro’. Heran. Padahal suara saya pas-pasan, malahan ada yang bilang cempreng dan sedikit ngegas.
Selang satu hari berikutnya, hari pembukaan pun tiba. Alhamdulillah acara dapat berjalan dengan lancar. Tampilan saya juga lancar meskipun pada saat itu perut saya rasanya mules, ujung jemari dingin semua, kaki gemetaran dan lemas bahkan masih terasa hingga selesai tampil. Yah, orang-orang menyebutnya demam panggung. Padahal saya demam beneran. Panggung kan benda mati, mana bisa dia demam. Selebihnya dosen pembimbing lapangan kami dapat hadir, pak kades, koordinator kecamatan hadir menyampaikan pesan-pesan dari pak camat, juga beberapa perangkat desa lainnya yang telah diundang turut hadir.
Pulang dari acara pembukaan kami masih harus kumpulan dengan DPL mumpung beliau ada disini untuk membahas transect dan apa-apa yang mungkin akan kami lakukan disini. Lucunya Pak Labib, DPL kami masih sempat membahas acara pembukaan sebelumnya. Acara beginian tuh gak usah dikasih sambutan dari korcam. Soalnya lama. Dan intinya gak jauh beda dari yang ingin saya sampaikan. Yah, namanya juga korcam, kalau gak pinter ngomong ya gak bakal jadi korcam. Kuncinya jadi korcam itu Cuma satu. Pinter ngomong. Tutur beliau. Kami pun tertawa. Diskusi tidak berlangsung lama, karena Pak Labib segera dijemput untuk kegiatan yang lainnya. Kami hanya bisa pasrah melihat kepergiannya.
Oh iya, saya disini adalah salah satu anggota dari devisi agama. Kegiatan saya sehari-hari yaitu mengajar TPQ. Ke sekolah jarang apalagi disuruh ikut ngajar les anak-anak. Tunggu dulu, saya tidak pengangguran ya selama KKN meski saya tidak rajin datang ke sekolah. Saya lebih memilih bantuin yang lain bikin produk ataupun nanam tanaman toga. KKN itu ada saja kegiatannya, kadang tanpa rencana. Tiba-tiba di desa ada acara lalu tentu saja kami disuruh ikut andil membantu kegiatan tersebut dan masih banyak lagi.
Pernah disuatu pagi saya kepikiran ingin pergi jalan-jalan dan masalahnya cuma satu yaitu sama siapa. Saya gak mau dong jalan sendirian, bukan karena takut dikatain jomblo tapi masak iya diantara 20 ekor anak manusia ini tidak ada yang mau diajak jalan-jalan kan rasanya aneh bin mustahil. Saat itu saya gak kepikiran kalau ini hari Minggu dan anak-anak pasti sedang libur. Saya berjalan hingga ujung gang, kemudian mendapati Asma dan Milla usai membeli sayur di pasar berjalan (baca bakul etek), kemudian hendak ke warung membeli bumbu. Saya mengikuti mereka sampai kembali ke posko.
Ketika saya masih mondar mandir di halaman mereka datang. Hiyaaaa.... mereka yang saya maksud adalah Faisal, Shodiq, Basith, Qomar serta tiga bocah cilik Fandi, Tara dan juga Rara. Mereka kesini dengan bertelanjang kaki, sudah bisa saya tebak bahwa mereka hendak pergi jalan-jalan. Niatnya sih baik mereka kesini mengajak kami kaum rebahan untuk beraktivitas juga untuk menyapa tetangga sekitar. Warga baru tak sepatutnya mengurung diri dalam rumah saja. Jadi mereka mengajak kami keluar agar warga sekitar juga kenal, minimal tahulah kalau disini itu sedang ada anak KKN. Meskipun di desa ini sudah sering dimasuki anak KKN akan tetapi tentu dengan orang yang berbeda.
Sayang seribu kali sayang niat baik mereka mendapat tanggapan yang kurang baik. Beribu alasan mereka keluarkan demi tak mengikuti ajakan tersebut. Ada yang membuat alibi sedang piket masak, ada yang sibuk mencuci bahkan sekedar ngupil. Kalau si anu tidak ikut aku juga tidak. Lah yawis, yang penting saya sudah usaha ngajak kan? Bocil-bocil juga sudah dikerahkan untuk memaksa mbak-mbaknya tapi nihil. Kemudian mereka pergi dengan perasaan kecewa :-( Karena saya sudah punya keinginan pergi jalan-jalan akhirnya saya memutuskan untuk mengejar mereka. Kami pun pergi jalan-jalan.
Kau tak kan mengerti betapa bahagianya anak-anak tersebut bila kau dapat meluangkan waktu untuk mereka, kalau kau tak merasakannya sendiri bagaimana dapat ku jelaskan. Semua itu tentang rasa. Kami berjalan mengelilingi desa, melewati sungai kecil hingga sungai yang lebih besar. Melewati mushola, melewati SD nya Tara dan Rara, kemudian belok lurus melewati pesawahan, melewati SD yang kini sudah mati. Sudah lumayan jauh dan Faisal sudah sambat mengajak untuk putar balikan. Tara dan Fandi bilang kalau lewat sana nanti lebih dekat, tapi lewat kuburan. Kami menurut saja karena masih beberapa hari dan belum hafal jalan disini.
Sampailah kami di sebuah rumah besar yang terdapat taman kecil di sampingnya. Juga ada budidaya ikan disana. Ada beberapa kolam serta ayunan tergantung indah. Kami mampir untuk melihat-lihat. Kemudian melanjutkan perjalanan. Melewati posko 2 yang bertempat di Dusun Semanding. Jauh bukan? Baru kemudian melewati sawah terus belok mengikuti jalan sepanjang sungai kecil yang dibuat untuk mengairi sawah. Dijalan yang kanan kirinya hanya sawah itu, Gunung Kelud terlihat begitu indah. (Eh, bentar. Bener Gunung Kelud gak sih namanya?) Beruntung gunung tersebut tidak tertutup awan hingga kami bisa memandangnya dengan jelas.
Barulah di sebelah kanan terdapat kuburan yang dimaksud Fandi dan Tara. Masih jauh melewati beberapa petak sawah untuk sampai di makam. Namanya juga lewat sawah tentu saja jalannya berlumpur apalagi ini masih musim hujan menambah licin. Kami begitu hati-hati agar tak jatuh terpeleset nantinya. Kata Tara, Fandi pernah jatuh di sungai ini. seperti diingatkan Fandi pun bercerita. Ah, gemasnya...
Setelah memotong jalan melewati sawah, sampailah kami di jalan beraspal. Faisal memaki-maki, dibohongi bocil-bocil katanya deket malah jauh. Lebih baik tadi putar balik aja. Dia terus berkata seperti itu sepanjang jalan pulang. Tara, Fandi dan Rara sudah semakin melambat jalannya. Mungkin sudah merasa lelah. Mereka berjalan dengan melipir sambil memainkan daunlah, berhenti melihat sungailah hingga kami berempat sudah jauh dibelakang. Saya yang nyemangati mereka sampai ketika hampir sampai mereka seperti ingat akan sesuatu.
Mereka berubah menjadi bersemangat kembali. Katanya kita lewat jalan pintas aja mbak. Oke, kalau begitu jangan ramai. Kami pun berjalan tanpa suara lalu segera berlari ketika sudah memasuki halaman rumah orang. Melewati kandang sapi kemudian cling!! Kamipun sampai di depan posko sambil tertawa terbahak-bahak melihat Faisal dan yang lain baru sampai di ujung gang. Yeeey.. menang aku sampai duluan, teriak Fandi. Wuaaahh...sial. curang. Aku dibohongi terus dari tadi, katanya. Fandi tak mau kalah dia bilang, salah sendiri jalan duluan. Hahaha.
Dari perjalanan ini kami pun mendapat bahan baru untuk dievaluasi. Bahwa memang tak mudah menyatukan banyak orang. Meskipun satu posko, tentu saja ditiap kepala memiliki jalan pikirannya masing-masing. Kita harus sadar dan mau mengalah melawan ego masing-masing. Dipagi berikutnya kami jalan beramai-ramai. Kami bersatu. Kami harus keluar dari zona ternyaman dalam hidup ini yaitu di rumah aja. Bagaimana masyarakat bisa tahu kalau kami ada jika hanya dengan mengurung diri di dalam rumah singgah, dalam posko ini.
Kami juga belajar bahwa hidup bermasyarakat tidaklah mudah. Orang jawa bilang obah sak obah okeh salahe. Menjadi bahan perbincangan disana-sini terutama ibuk-ibuk. Mereka tidak salah. Kami juga demikian. Semua itu hanya perlu satu, yaitu duduk bersama untuk kemudian dibicarakan bersama. Selesailah apa yang menjadi omongan atau rasan-rasan. Kalau di kampus kami diberi pelajaran terlebih dahulu kemudian ujian, kalau dalam hidup bermasyarakat kami ujian dahulu baru bisa mendapat pelajaran.
Setelah melalui rentetan acara pembekalan dan pelepasan yang diadakan oleh kampus, kami pun berangkat menuju posko pada hari Jum’at, 10 Januari 2020 dengan mengendarai sepeda motor. Saya hanya bisa nebeng, helm saja saya dapat dari minjem. Minjem selama sebulan itu entah apa namanya. Sampai disana kami lihat-lihat rumah lalu duduk di ruang tamu, berbincang ringan sambil melepas penat. Saya pergi ke belakang. Biarlah teman-teman duduk bersantai di ruang tamu, mungkin masih capek. Di dapur Ibu posko sedang riweuh hendak menyiapkan minuman panas untuk kami, saya pun ikut membantu menyiapkannya dan membawa ke ruang tamu. Mereka bilang gausah repot-repot hahaha saya sih gak repot tapi ibuknya yang repot batin saya.
Sekitar dua hari kami di posko akhirnya kami punya agenda kegiatan yaitu kumpulan dengan posko satunya yang masih satu desa untuk membicarakan keperluan pembukaan. Kami agak jarang berkumpul karena jarak antar posko juga lumayan jauh. Dalam kumpulan tersebut saya menjadi bagian dari sie acara dan mendapat tugas qiro’ah. Dari 40 butir yang ada disini kenapa pula saya yang ditumbalkan menjadi tukang qiro’. Heran. Padahal suara saya pas-pasan, malahan ada yang bilang cempreng dan sedikit ngegas.
Selang satu hari berikutnya, hari pembukaan pun tiba. Alhamdulillah acara dapat berjalan dengan lancar. Tampilan saya juga lancar meskipun pada saat itu perut saya rasanya mules, ujung jemari dingin semua, kaki gemetaran dan lemas bahkan masih terasa hingga selesai tampil. Yah, orang-orang menyebutnya demam panggung. Padahal saya demam beneran. Panggung kan benda mati, mana bisa dia demam. Selebihnya dosen pembimbing lapangan kami dapat hadir, pak kades, koordinator kecamatan hadir menyampaikan pesan-pesan dari pak camat, juga beberapa perangkat desa lainnya yang telah diundang turut hadir.
Pulang dari acara pembukaan kami masih harus kumpulan dengan DPL mumpung beliau ada disini untuk membahas transect dan apa-apa yang mungkin akan kami lakukan disini. Lucunya Pak Labib, DPL kami masih sempat membahas acara pembukaan sebelumnya. Acara beginian tuh gak usah dikasih sambutan dari korcam. Soalnya lama. Dan intinya gak jauh beda dari yang ingin saya sampaikan. Yah, namanya juga korcam, kalau gak pinter ngomong ya gak bakal jadi korcam. Kuncinya jadi korcam itu Cuma satu. Pinter ngomong. Tutur beliau. Kami pun tertawa. Diskusi tidak berlangsung lama, karena Pak Labib segera dijemput untuk kegiatan yang lainnya. Kami hanya bisa pasrah melihat kepergiannya.
Oh iya, saya disini adalah salah satu anggota dari devisi agama. Kegiatan saya sehari-hari yaitu mengajar TPQ. Ke sekolah jarang apalagi disuruh ikut ngajar les anak-anak. Tunggu dulu, saya tidak pengangguran ya selama KKN meski saya tidak rajin datang ke sekolah. Saya lebih memilih bantuin yang lain bikin produk ataupun nanam tanaman toga. KKN itu ada saja kegiatannya, kadang tanpa rencana. Tiba-tiba di desa ada acara lalu tentu saja kami disuruh ikut andil membantu kegiatan tersebut dan masih banyak lagi.
Pernah disuatu pagi saya kepikiran ingin pergi jalan-jalan dan masalahnya cuma satu yaitu sama siapa. Saya gak mau dong jalan sendirian, bukan karena takut dikatain jomblo tapi masak iya diantara 20 ekor anak manusia ini tidak ada yang mau diajak jalan-jalan kan rasanya aneh bin mustahil. Saat itu saya gak kepikiran kalau ini hari Minggu dan anak-anak pasti sedang libur. Saya berjalan hingga ujung gang, kemudian mendapati Asma dan Milla usai membeli sayur di pasar berjalan (baca bakul etek), kemudian hendak ke warung membeli bumbu. Saya mengikuti mereka sampai kembali ke posko.
Ketika saya masih mondar mandir di halaman mereka datang. Hiyaaaa.... mereka yang saya maksud adalah Faisal, Shodiq, Basith, Qomar serta tiga bocah cilik Fandi, Tara dan juga Rara. Mereka kesini dengan bertelanjang kaki, sudah bisa saya tebak bahwa mereka hendak pergi jalan-jalan. Niatnya sih baik mereka kesini mengajak kami kaum rebahan untuk beraktivitas juga untuk menyapa tetangga sekitar. Warga baru tak sepatutnya mengurung diri dalam rumah saja. Jadi mereka mengajak kami keluar agar warga sekitar juga kenal, minimal tahulah kalau disini itu sedang ada anak KKN. Meskipun di desa ini sudah sering dimasuki anak KKN akan tetapi tentu dengan orang yang berbeda.
Sayang seribu kali sayang niat baik mereka mendapat tanggapan yang kurang baik. Beribu alasan mereka keluarkan demi tak mengikuti ajakan tersebut. Ada yang membuat alibi sedang piket masak, ada yang sibuk mencuci bahkan sekedar ngupil. Kalau si anu tidak ikut aku juga tidak. Lah yawis, yang penting saya sudah usaha ngajak kan? Bocil-bocil juga sudah dikerahkan untuk memaksa mbak-mbaknya tapi nihil. Kemudian mereka pergi dengan perasaan kecewa :-( Karena saya sudah punya keinginan pergi jalan-jalan akhirnya saya memutuskan untuk mengejar mereka. Kami pun pergi jalan-jalan.
Kau tak kan mengerti betapa bahagianya anak-anak tersebut bila kau dapat meluangkan waktu untuk mereka, kalau kau tak merasakannya sendiri bagaimana dapat ku jelaskan. Semua itu tentang rasa. Kami berjalan mengelilingi desa, melewati sungai kecil hingga sungai yang lebih besar. Melewati mushola, melewati SD nya Tara dan Rara, kemudian belok lurus melewati pesawahan, melewati SD yang kini sudah mati. Sudah lumayan jauh dan Faisal sudah sambat mengajak untuk putar balikan. Tara dan Fandi bilang kalau lewat sana nanti lebih dekat, tapi lewat kuburan. Kami menurut saja karena masih beberapa hari dan belum hafal jalan disini.
Sampailah kami di sebuah rumah besar yang terdapat taman kecil di sampingnya. Juga ada budidaya ikan disana. Ada beberapa kolam serta ayunan tergantung indah. Kami mampir untuk melihat-lihat. Kemudian melanjutkan perjalanan. Melewati posko 2 yang bertempat di Dusun Semanding. Jauh bukan? Baru kemudian melewati sawah terus belok mengikuti jalan sepanjang sungai kecil yang dibuat untuk mengairi sawah. Dijalan yang kanan kirinya hanya sawah itu, Gunung Kelud terlihat begitu indah. (Eh, bentar. Bener Gunung Kelud gak sih namanya?) Beruntung gunung tersebut tidak tertutup awan hingga kami bisa memandangnya dengan jelas.
Barulah di sebelah kanan terdapat kuburan yang dimaksud Fandi dan Tara. Masih jauh melewati beberapa petak sawah untuk sampai di makam. Namanya juga lewat sawah tentu saja jalannya berlumpur apalagi ini masih musim hujan menambah licin. Kami begitu hati-hati agar tak jatuh terpeleset nantinya. Kata Tara, Fandi pernah jatuh di sungai ini. seperti diingatkan Fandi pun bercerita. Ah, gemasnya...
Setelah memotong jalan melewati sawah, sampailah kami di jalan beraspal. Faisal memaki-maki, dibohongi bocil-bocil katanya deket malah jauh. Lebih baik tadi putar balik aja. Dia terus berkata seperti itu sepanjang jalan pulang. Tara, Fandi dan Rara sudah semakin melambat jalannya. Mungkin sudah merasa lelah. Mereka berjalan dengan melipir sambil memainkan daunlah, berhenti melihat sungailah hingga kami berempat sudah jauh dibelakang. Saya yang nyemangati mereka sampai ketika hampir sampai mereka seperti ingat akan sesuatu.
Mereka berubah menjadi bersemangat kembali. Katanya kita lewat jalan pintas aja mbak. Oke, kalau begitu jangan ramai. Kami pun berjalan tanpa suara lalu segera berlari ketika sudah memasuki halaman rumah orang. Melewati kandang sapi kemudian cling!! Kamipun sampai di depan posko sambil tertawa terbahak-bahak melihat Faisal dan yang lain baru sampai di ujung gang. Yeeey.. menang aku sampai duluan, teriak Fandi. Wuaaahh...sial. curang. Aku dibohongi terus dari tadi, katanya. Fandi tak mau kalah dia bilang, salah sendiri jalan duluan. Hahaha.
Dari perjalanan ini kami pun mendapat bahan baru untuk dievaluasi. Bahwa memang tak mudah menyatukan banyak orang. Meskipun satu posko, tentu saja ditiap kepala memiliki jalan pikirannya masing-masing. Kita harus sadar dan mau mengalah melawan ego masing-masing. Dipagi berikutnya kami jalan beramai-ramai. Kami bersatu. Kami harus keluar dari zona ternyaman dalam hidup ini yaitu di rumah aja. Bagaimana masyarakat bisa tahu kalau kami ada jika hanya dengan mengurung diri di dalam rumah singgah, dalam posko ini.
Kami juga belajar bahwa hidup bermasyarakat tidaklah mudah. Orang jawa bilang obah sak obah okeh salahe. Menjadi bahan perbincangan disana-sini terutama ibuk-ibuk. Mereka tidak salah. Kami juga demikian. Semua itu hanya perlu satu, yaitu duduk bersama untuk kemudian dibicarakan bersama. Selesailah apa yang menjadi omongan atau rasan-rasan. Kalau di kampus kami diberi pelajaran terlebih dahulu kemudian ujian, kalau dalam hidup bermasyarakat kami ujian dahulu baru bisa mendapat pelajaran.

Cie yg udah kkn
BalasHapus