Malas dan tidur

 


        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang bukan menurut kamus kehidupan saya, makna kata malas itu berarti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Tidak bernafsu, segan, enggan. Sedangkan kata bermalas-malas atau malas-malasan memiliiki arti duduk (tiduran, rebahan, goleran, koyo sarung ra kangge lah pokok e) tanpa berbuat sesuatu (berlengah-lengah).

        Seperti halnya saya dan kalian semua pada umumnya. Perlu digaris bawahi dikata pada umumnya. Jadi, kalau kamu tidak termasuk maka bersujud syukurlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kehendak-Nyalah kamu bisa menjadi sesosok makhluk yang tidak umum. HAHAHA.

        Kemarin, dosen saya membuat sebuah story di whatsapp yang isinya membahas tentang tidur seperti ini bunyinya : "Menurut survey orang yang tidurnya kurang dari delapan jam itu kurang sehat. Survey terbaru menyebutkan bahwa orang yang tidurnya lebih dari delapan jam itu pengangguran" Deddy Corbuzier, Hitam Putih. Saya tidak peduli saat itu dosen saya habis melihat siaran televisi Hitam Putih atau tidak karena yang penting bagi saya wacana singkat itu begitu menohok diri saya.

        Kesimpulannya ialah bahwa orang pengangguran itu orang yang malas. Orang yang malas itu kebanyakan yang pengangguran. (Eh, kok jadi cuma dibolak-balik sih?) Jadi orang malas atau pengangguran itu yang kebanyakan tidur. Entah itu tidur beneran atau yang tiduran sambil main handphone apalagi yang cuma tiduran doang sambil melamun "enaknya ngapain ya". Terus yah, pokoknya yang kerjaannya gak jelas cuma ngeringkuk di kamar terus tiduran, rebahan, goleran dan sejenisnyalah. 

        Bilangnya sih gak punya kerjaan, gabut, bingung mau ngapain padahal emang itu kesukaannya. Suka kalau gak ngapa-ngapain. Nanti kalau udah mendekati deadline baru sadar mau bangun terus ngeluh kok cepet banget waktu berjalan. Bahkan ada malah yang sampek overdue karena entah kelupaan atau males akut atau malah sok sibuk WKWKWK (Btw, saya juga suka gitu sih. Bukan suka deng tapi sering. Gak suka saya kayak gitu huhu) 

        Pas ngaji juga udah sering disindir harus pinter-pinter membagi waktu, belajar, muthola'ah, dsb. Mumpung masih muda masih sekolah seperti ini harus rajin. Sholat berjamaahnya yang teratur, kalau masih menjadi santri saja sudah susah dan malas buat sholat berjamaah nanti kalau hidup di luar mau seperti apa. Siapa yang bisa menghidupkan sholat berjamaah kalau bukan santri. 

        Belajar sebelum dibacakan guru sudah dibaca terlebih dahulu, pokoknya kalau sudah jadwalnya jangan mendadak baru dibuka kitabnya baru depelajari. Ya susah berhasil kalau begitu. Belajar menghidupkan malam. Kalau  bisa seperti itu Insyaallah siangnya ringan tidak akan merasa terbebani, merasa sumpek, merasa wektune kurang dan sebagainya karena sudah dicicil belajarnya ketika malam hari. 

        Harus sering-sering mengingat ini nih saya biar gak terus-terusan khilaf. Khilaf kok terusan, mana ada? Yang nulis ini gaada aklak emang. Semoga saya dan kita semua banyak sadarnya dan cepat bertobat supaya tidak banyak khilaf bermalas-malasannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips dapat teman baru

Belum siap kehilangan (2)

Pengen boker