Postingan

Sholawatan bersama bapak (1)

Senin, 11-11-22 Beberapa hari yang lalu jauh sebelum hari ini seorang teman berkata kepada saya bahwa dia ingin menghadiri majelis sholawat bersama Habib Syekh di Lirboyo. Saya bilang masih lama nanti keburu lupa, ya nanti tak ingatkan lagi katanya. Hari H pun tiba dia bilang dia lupa. Hari sudah sore ketika saya ingat setelah melihat SW (story WhatsApp) teman.  Padahal teman saya yang antusias ingin hadir sampai bingung nanti mau nginap dimana kalau hadir, sudah saya sampaikan jika boleh menginap di rumah saya saja. Teman saya itu rumahnya Jombang, kasian bila harus langsung pulang tengah malam sendiri.  Sore itu saya sedang duduk-duduk di dekat kandang kambing berburu wifi milik om saya karena malas ke depan saya lebih memilih berburu wifi disini.  Kemudian bapak saya lewat dan berkata bahwa nanti malam ada Habib Syekh di Lirboyo. Saya jawab "iya, ayo kesana" dan bapak bilang ayo aja. Dalam hati berkata asiiik...sudah lama sekali tidak sholawatan bersama Al Habib Syekh ...

Pak Parkir kamu dimana?

 Waktu itu saya pernah... Waktu itu saya pernah kesulitan mau mengeluarkan motor kemudian saya cuma diem aja gitu ngeliatin teman yang lain juga lagi sibuk mau ngeluarin motornya masing-masing. Saya hanya sekali bertanya "motor kamu yang mana?" pada teman yang ternyata motornya di samping saya pas "oh..ya" terus dia sibuk ngeluarin motornya. Liatin aja deh sambil nunggu nanti kalo udah longgar baru saya keluar, batin saya. Tak lama kemudian teman saya yang lain yang motornya didepan saya menanyai saya "bisa gak?" "Hehe nggak" terus dibantuin deh. Saya bilang terimakasih juga sama orangnya.  Teman yang saya bicarakan disini teman yang baru kenal ditempat yang tidak secara kebetulan satu acara di tempat ini jadi masih kurang begitu akrab. Canggung gimana gitu taulah rasanya kalo kalian ketemu orang baru. Terus lain hari di acara dan tempat yang sama motor saya terjebak. Lagi. Belakang motor saya ada dua motor cowok sejenis vixion barangkali. Kemud...

Yok bisa yok belajar nulis

  Lagi viral berita seorang ibu tega gerek ketiga anaknya. Padahal ibu tersebut seorang MUA. Punya pekerjaan lah ya kalo kita mandangnya kurang apalagi. Pekerjaan punya, anak tiga lucu-lucu. Tekanan seperti apa yang ibu itu rasakan hingga tega melakukan hal seperti itu. Nderek dawuhe Ning Khilma Anis yok. Belajar nulis. Bukan agar bisa menjadi terkenal atau apa tapi biar kita bisa mengungkapkan bagaimana perasaan kita. Buat dirikita sendiri. Biar kita ada tempat berkeluh kesah disaat tak ada satu manusia pun yang mampu memahami. Biar bisa ngolah emosi melalui tulisan. Yang terpenting saat kita stress setidaknya kita bisa melampiaskannya melalui tulisan, bukannya bunuh diri, menyakiti diri sendiri atau malah menyakiti orang lain. Stress itu butuh wadah. Butuh tempat untuk membuang sampah berupa keluh kesah. Perlu tempat pembuangan agar tak menumpuk dalam badan. Kalo kata Prof. Naim menulis itu perlu latihan. Menulis itu tidak mudah gaiss... Perlu adanya kebiasaan. Tidak apa ji...

Ayah terhebat

Gambar
  Bapak... Sekarang anakmu sudah besar, sudah dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Pak, mohon doa restunya ya pak... Doakan anakmu ini semoga bisa mengarungi  bahtera hidup rumah tangga yang harmonis seperti ketika bapak bersama ibu dulu Kelak ketika kami sudah 'sah' akan aku ajak menantumu datang kemari pak Aku ingin dia mengenal  bapak, betapa bapak adalah orang yang hebat "Iyo nduk tak restui... Ojo lali ditoto niate seng bener krono Gusti Allah. Dongoku wes melu dongone ibumu terus nduk" *** Tidak mengerti betapa kakak sangat kehilangan. Ketika wisuda terbayang foto bersama keluarga. Namun ternyata bapakmu pergi mendahului semua. Hanya foto yang bisa kau bawa ketika menghadapi hari-hari yang harusnya penuh suka cita. Tak mengapa. Sebab kau wanita yang kuat, kak. Dalam waktu dekat ini kau akan menjalani hidup yang baru. Dengan seorang lelaki pilihan Tuhan. Semoga bahagia senantiasa mendampingi langkahmu kemudian. Barakah, sakinah, mawadah warahmah fiddini wadduny...

Belum siap kehilangan (2)

Gambar
  Hari ini ku temukan suratmu.  Aku baru akan membongkar barang-barang ku hari ini. Aku juga habis mencuci lemari plastikku.  Hah apa nih? Aku kan gak pernah punya kertas kado yang coraknya seperti ini? Ah, paling isinya kitab ku yang belum dikembalikan. Eh, ternyata rapotku isinya. Haha. Siapa lagi yang suka iseng begini kalo bukan si Hestiana Roazah?! Cek lagi ah kertas pembungkusnya siapa tau ada suratnya. Loh...gaada. Pas gak sengaja mau iseng buka rapot malah ketemu suratnya. Sial potonya ditempel cuyy. Mana panjang bener suratnya. Gamau baca ah, ntar nangis lagi. Tapi gak lama kemudian si tangan malah meraih kertas itu dan mata tanpa bisa ku ingatkan lagi malah membacanya. Wih...sial aku menangis. Entah kapan kau meletakkannya. Btw kalo misal kardus-kardus ku ini jadi aku selotip kira-kira akan kau letakkan dimana ya? Hehe. Ternyata yang tidak rela bukan hanya aku kaupun sama. Sungguh tak pernah ku temukan sosokmu pada temanku yang lain. Yang selalu mengingatkan aka...

Belum siap kehilangan

Gambar
  Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu  Belum sanggup untuk jauh darimu  Yang masih slalu ada dalam Hatiku...  *** Awalnya ku pikir aku tak kan bisa menangis kala hari itu datang. Namun, hari ini...hari itu telah datang. Malamnya saat aku menyiapkan segalanya, aku lakukan dengan terlihat riang seperti biasanya. Padahal hatiku sangat kacau. Aku bingung sekali.  Detik-detik saat ku berpamitan dengan kalian aku hampir tak bisa berkata-kata. Rasanya berat sekali mengucap maaf untuk kali terakhir di pondok impian ini. Iya, dulu aku selalu ingin berada di pondok ini. Namun kini telah berbeda, cepat atau lambat tentu aku akan pergi. Sebelum hari itu tiba, aku pernah membayangkan hari ini kemudian aku menitikkan air mata. Ah, mana mungkin aku bisa menangis dihadapan kalian.  Kalian telah berkumpul. Kalian adalah keluargaku, temanku, guruku, kakakku, adik-adik ku. Kalian segalanya bagiku bagaimana bisa aku tinggalkan. Berat sekali rasanya melontarkan kata maaf....

Bebas

Gambar
  Hai... Sudah satu bulan tepat kita tak pernah saling bertegur sapa. Kita tak pernah sepakat ataupun membuat perjanjian akan saling diam begini. Semuanya berjalan begitu saja. Bagaimana kabarmu? Apakah baik? Ataukah malah sudah mendapat pengganti diriku yang menyebalkan ini? 24 jam ke depan aku sudah tak tinggal disini lagi. Apakah besok kau akan tahu meskipun bukan aku yang memberitahumu?  Baru satu bulan tapi aku sudah menulis tentangmu lagi. Bagaimana bisa aku melewati hari-hariku bila tanpamu satu atau dua tahun kemudian? Padahal aku yang mengatakan pada diriku sendiri jika setidaknya aku ingin dua tahun lagi, biarlah kita tak saling sapa, biarkan aku menuntaskan mimpiku dan mimpi kedua orang tuaku dulu. Kau juga tuntaskanlah dulu cita-citamu. Jika kelak kau masih memiliki rasa yang sama denganku, mari saling berkabar lagi. Jika berjodoh aku mau didampingi olehmu. Jikalau tidak, tolong kabari aku jika kau telah menemukan pendamping hidupmu. Agar aku tak mengharap lagi. Ag...

Harapan

Gambar
Mari...berpisah secara baik-baik untuk kemudian berjumpa lagi di momen yang tepat. Mari...bertemu kembali setelah dua atau tiga tahun lagi. Mungkin itu waktu yang tepat dan aku sudah siap. Itupun jika kita masih sama dan kemudian ditakdirkan bisa bersama. Ah, bahkan aku tak mengerti apakah hanya aku yang menyukaimu. Kelak ketika aku paham aku mungkin hanya bisa tersenyum, getir. Kemudian merutuki diri yang bodoh yang padahal sudah mengerti bahwa kamu pun berpotensi menyakitiku. Aku tak ingin jatuh namun terlanjur jauh. Aku tak ingin berharap namun mengapa dalam pikirku kau menetap? Bahkan aku telah memiliki angan-angan kelak kita akan tinggal satu atap. Aku tak percaya bagaimana dirimu bisa sedemikian hebat. Melekat dekat rekat dalam ingat tak ingin terlepas. Meskipun kau tak memiliki rasa yang sama sepertiku, kau tetap harus mengakhiri hubungan ini denganku secara baik-baik. Karena aku tak ingin membencimu. Kau tahu? Bahkan aku tak ingin membencimu meski bukan aku yang kau pilih tuk j...

Tertatih

 Sudah dua hari ini aku terus menangis. Entah sampai kapan. Mungkin ketika sudah sehat. Sehat keduanya, antara lahir dan batinnya, antara jiwa dan raganya, apa yang tampak dan begitu pula yang tidak. Aku lelah. Badanku sakit. Sakit dalam artian yang sebenarnya. Aku batuk dan sedikit pilek. Badanku meriang. Jiwaku terguncang. Perutku tertekan karena batuk. Tapi aku harus kuat. Aku tidak bisa mengatakan apa yang aku resahkan. Dimana pula bisa ku curahkan. Aku harus kuat. Ada revisi jurnal yang harus selesai dengan cepat. Karena waktu tidak akan berputar lambat apalagi sampai telat.  Ada janji yang harus ku tepati. Bahwa  kuliah tidak boleh menambah biaya lagi. Apalagi molor hanya sebab malas tiada pergi. Lebih banyak motivasi namun mengapa masih mengasihani diri? Abah, Bunda sudah susah membiayai dan kamu hanya mengangkat kaki, menopang dagu sambil menikmati?  Sungguhkah kamu masih bisa menikmati? Kamis, 3 Juni 2021 Mengutuki diri yang masih berkutik dengan revisi. Akh...

Kecewa

Aku malu. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada Tuhanku. Aku malu pada semua malaikat yang saat itu telah membantu meringankan beban seluruh umat. Mereka begitu baik, terutama Engkau. Engkau mau menerima tawaran itu. Tuhan... Padahal Engkau adalah satu-satunya yang Maha Segalanya. Aku begitu buruk. Engkau sudah memberi peringatan kepada umatmu melalui Adzan. Memberi sebuah tanda akan adanya kewajiban menuju kemenangan. Sebuah tanda undangan atas panggilan-Mu. Namun tetap saja ada yang mengaku hamba-Mu, Akan tetapi lalai atas panggilan itu. Aku telah lalai. Akulah manusia lalai itu. Tuhan... Padahal Engkau telah mengabulkan pintaku. Sungguh, bahkan untuk berterimakasih aku merasa tak pantas. Bagaimanalah dapat ku hapus atas banyaknya dosa-dosaku?